Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2012

daun yang jatuh tak pernah membenci angin

daun yang jatuh tak pernah membenci angin . dia membiarkan dirinya jatuh begitu saja . tak melawan . menikhlaskan semuanya . ---- ... biarlah aku luruh ke bumi seperti sehelai daun . daun yang tak pernah membenci angin meski harus terenggutkan dari tangkai pohonnya .. .                                                                                                             (Tere Liye)
terucap kata . terhapus harap . berubah haluan . berbelok . menghentikan rasa. menjadikannya lebih sederhana . membuat rasa nyata seperti bunglon . berubah-ubah . tersamarkan . tak nampak dan tak terbaca. --------- terpaut hati . tak bisa . tak ada wujud . tak ada nyata . yang tlah terpaut biarlah . tak perlu diputus. tak usah dihapus . karena yang terpaut itu mampu menjadi apapun . tak harus 'cinta' . tetapi . sayang itu luas adanya

coba melepasnya

melihat cakrawala . merengkuh asa . meninggalkan kelam . beranjak . bangkit dan berlari . Melupakan memang takkan mungkin . karena dia seperti kata yang terukir pada sebuah batu . lekat dan takkan mudah terhapus. meski takkan mungkin. tentu bukan berarti terpaku. yang tak terengkuh biarlah. karena memaksa hanyalah keletihan. lepaskanlah . lapangkanlah. biarkanlah yang terbebas itu melanjutkan langkahnya . karena jalanmu telah menanti untuk kau jejaki.
tak hanya dia tak sekedar dia dan itulah seharusnya bukan hanya untuknya bukan sekedar tentangnya dan itulah hidupmu hidupmu yang seharusnya ada cita yang lain. ada mimpi yang lain. ada asa yang lain. yang selalu menanti untuk kau jemput . berhenti ! kumohon berhentilah mengharapkannya. berhentilah memanjakannya . berhentilah mengagungkannya di hatimu berhentilah me'raja'kannya. kumohon karena raja yang baik tak kan pernah membiarkan ratunya menangis

terjebak dalam rasa sendiri

BODOH . mana bisa seperti itu . berpura-pura . akhirnya kau sendiri yang merasakan . sudah kubilang jangan coba-coba . rasanya sama saja kan ? mana bisa seperti itu ? kau sendiri yang mengatakan, bahwa semua itu tak mungkin . tapi mengapa tetap kau lakukan . seudah . jangan menangis lagi. nasi sudah menjadi bubur . rassakan saja pahit yang mendera . berdoalah pahit itu akan tetap terasa manis

aku senang

ternyata hari itu masih ada . kukira setelah kemarin semuanya usai . kukira batasku adalah kemarin . tetapi ternyata hari itu masih ada . aku senang meski masih pada posisi yang sama aku senang meski ku tahu akan ada kehilangan aku senang karena aku masih bisa bertegur dengan mu aku senang

untuk ayah dan ibu :)

Ayah . Aku ingin menjadi sepertimu Aku kagum dengan ketangguhanmu Aku kagum dengan kegigihanmu Aku kagum dengan semangat yang slalu kau miliki Ibu . Aku pun ingin menjadi sepertimu Karena kesabaranmu Karena kasih sayangmu Karena ketulusan yang kau miliki Ayah . Aku selalu menanti cerita-ceritamu di meja makan . Saat pagi dan malam . saat aku memulai hariku dan saat kau bertanya “bagaimana hari ini nak?” Berbagi cerita dan pengalaman dengan mu, sungguh takkan pernah habis . Itu sangat menyenangkan ayah . Ibu . Aku pun selalu menanti hidangan-hidangan mu di meja makan. Saat terburu-buru menyediakan sarapan untukku . Saat dengan wajah gembira kau berkata “nak, malam ini ibu memasak makanan kesukaanmu” Aku suka . meski terkadang hidangan itu selalu sama . Aku tak pernah bosan . sedikit pun . Tak seperti makanan-makanan diluar sana . Ayah . ibu . Aku sayang kalian . Aku bersyukur berada diantara kalian . Menjadi bagian dari kalian ...

untuknya yang sesaat hadir di hidupku

dan inilah .. menjadi bunga yang hanya disinggahi kupu . untuk sesaat . sesaat .  hanya untuk membuat bunganya nampak semakin cantik . hanya untuk mengajak sang bung bercengkrama .  barang sebentar . saat si bunga mulai merasa nyaman dengan kehadiran si kupu . saat si bunga semakin berbaik hati berbagi nektar . saat si bunga selalu menunggu kehadiran kupu untuk memberikan nektarnya . saat tak ada lagi keengganan . saat semuanya seakan menjadi satu . saat itulah kehidupan berlanjut . tak ada lagi kupu . ia telah bertelur dan menyelesaikan masa hidupnya . si bunga ?  seharusnya tetap nampak cantik meski si kupu tak lagi menyapa :')

cinta pada pandangan pertama

tertegun karena tatapn yang tak biasa dengan sorot mata yang jujur dan senyuman jahil yang terukir tergoda . atas tatapan itu . atas senyuman itu . dan sorot mata yang tak mudah dilupakan terbersit harap . tertanam benih cinta . inikah ?  katanya cinta bisa dari mata turun ke hati mungkinkah ? berharap tatapan itu lebih lama meski karenanya aku tak sanggup berkata hanya simpul senyum malu yang terukir yang terasa bersama hentian waktu yang sesaat oh, inikah rasanya jatuh cinta pada pandangan pertama

rasa yang sederhana

menjadi sederhana dengan rasa menjadi biasa . menjadi sekedarnya . menjadi apa yang dia butuhkan menjadikan hati tanpa rasa. menjadikan yang indah tampak biasa dan menjadikan yang nyata seolah taka ada bukan kemudahan menjalaninya bukan pula kemudahan menutupinya butuh rasa . perlu asa ingin. karena hanya kami yang mengerti saat  rasa yang ada harus dibuat tak ada saat rasa yang nyata harus disembunyikan saat rindu hadir . mata bertatap namun apa . nyata tak bisa dirasa hanya rasa sendiri . mungkin dia tapi tak bisa . dua menjadi satu saat satu itu tak nyata hanya kami . cukup kami yang mengerti biar aku yang rasa . dengan sesak ku rasakan ku jalani seiap rindu yang hadir dengan tawa yang kosong . dengan tangis yang tertahan ku lewati setiap rindu yang menyapa dengan bayangmu, dengan semua kenangan kita ku lewati kesendirian yang kau ciptakan untukku

sekilas

Aku tetaplah aku yang seperti ini . Memasuki kehidupan mu, Jujur tanpa sengaja . Maaf jika akhirnya ini jadi sedikit ‘berantakan’ Dan aku . tak mau disalahkan atas semua ini . Karena aku tak pernah meminta Dan aku pun merasakan akibatnya . Aku memang bukan siapa-siapa . Bahkan mungkin hanya angin lalu , yang hembusannya terlalu meresap dalam asa mu . Tak ada maksudku dan sekali lagi Jangan salahkan aku . karena aku tak berniat . Jika akhirnya ‘berantakan’ . yasudah . Apalagi . toh sudah ‘kepalang basah’ Terserah . berhenti atau lupakan . Tak akan aku menghalangi . karena apa Aku tak pernah meminta . Ya memang, aku juga merasakan akibatnya . Akibat dari apa yang tak pernah kuminta Tapi aku tidak marah . Menyesal pun tidak . Karena setelah ku cermati . Aku ‘butuh’ . --tertawa saja silahkan – Aku tidak berbohong . saat berkali ku katakan aku tak meminta . Karena aku memang tak pernah meminta . Jika akhirnya aku berkata aku ‘butuh...

tentang jejaknya

Menghapus jejakmu . adalah langkah tersulit yang harus kulakukan . Tak seperti saat mencintamu . Kulakukan seperti berlari diatas hamparan pasir nan putih . Ringan, menyenangkan, dan setiap hembusan angin yang kurasakan seolah selalu membawakan berita bahagia . Tentang mu dari mu untuk cinta . Dan kini, nyatanya ombak yang menghadang pun tetap tak mampu menghapus jejak-jejak di hamparan pasir itu . Entahlah . bukankah harusnya tersapu dengan mudah . Tapi kali ini jejaknya begitu melekat . Entah setelah terjangan ombak yang keberapa kalinya Jejak itu tetap tak mau hilang . Lantas apa? Berharap ? menunggu ? atau apa ? Melihat jejak itu . memang seolah tak ingin ada sedikit pun yang terhapus . Inginnya abadi tapi nyatanya tak mungkin . Pilihannya sekarang . Hidup dalam ingin? Atau hidup dalam nyata ? Dan tetap tak tahu . karena ingin yang ada tak sama dengan nyata . Sedang aku . hidup tak hanya sekedar untuk menghapus jejak-jejak itu . Jejak k...
tak seperti hujan yang turun kan cepat menguap ketika mentari berganti . sang pecinta hujan nyatanya tetap mengendap . meski mentari telah datang silih berganti.

jalan yang terputus

jalan setapak ini . entah mengapa semakin mengerucut . semakin terasa gelap. Cahaya yang dulu begitu terang didepan sana, kini semakin menghilang . Sepertinya aku telah salah jalan.     Sepertinya aku telah tertipu dengan cahaya yang begitu terang di gerbang sana Gerbang yang kini berada begitu jauh dibelakangku Karna entah . Sudah berapa lama aku menyusuri jalan ini . Sudah berapa jauh aku berada didalamnya Aku tak tahu . Yang kutahu hanya . cahaya yang dulu selalu setia menemani langkahku di jalan setapak ini Kini telah redup . tak ada lagi . Dan sepertinya jalan ini memang terputus . dan mungkin inilah ujungnya . Lantas. Sanggupkah aku berbalik arah dan memilih jalan yang lain . Sedang aku telah begitu jauh menyusuri jalan ini Mungkinkah aku akan cepat menemui jalan yang baru . Hanya waktu yang tahu .
cinta itu rasa . rasa itu tulus . tulus itu mau menerima keadaan . apapun bentuknya . menerima tanpa merubah rasa . ada yang bilang, rasa itu adanya abadi . karena rasa yang utuh itu ga akan pernah berubah . apapun tantangannya . rasa tetap takkan berubah . rasa memang tak berwujud . karena rasa ya hanya bisa di'rasa' dan itu mengapa . seharusnya bahagia tak berubah jadi kecewa . meski bahagia tak terwujud . jangan pernah menyalahkan rasa yang hadir . karena rasa adalah anugerah . anugerah yang takkan pernah salah . :)
Kini sudah saatnya untuk berlari Harusnya sudah tak ada lagi yg bisa menahan langkahmu Tak ada lagi . Lihatlah kenyataan yang ada Bangunlah dari mimpi-mimpi mu Smuanya telah terjawab . Bangkitlah dan berlarilah sesukamu Ada banyak kejutan manis yang selalu menanti untuk kau jemput . 
Setengah yang takkan utuh (mungkin) Menjadi setengah . Tidak 1 bukan sepenuhnya . Yah, hanya sebagian . Menjadi sebagian karena rasa yang ada Tapi sebagian lain tak bisa diraih karena nyata yang terjadi Meski rasa telah sama Meski hati seolah ingin bersatu Meski seakan kami telah saling menerima Tapi apa daya Satu perbedaan yang ada nyatanya memang mampu mengalahkan 1 2 3 4 5 .. ah, banyak hal yang telah membuat rasa itu hadir diantara kami Lantas haruskah kami berhenti ? Atau kami kembali ke jalan kami sebelumnya ? Atau meneruskan perjalanan yang “tidak sepenuhnya” ini ? Hanya setengah kawan Sekian banyak hal yang membuat kami nyaman itu Hanya mampu membuat kami menjadi setengah Ingin menjadi utuh Utuh dalam satu bukan setengah Atau sebagian
Untuk rasa yang samar Bosan . jenuh . bukan karena apa. Bukan karena kisah yang tak indah Bukan karena awal yang tak baik Bukan karena aku bertepuk sebelah tangan Ini hanya tentang keadaan. Hanya tentang pilihan kami Tentang pilihan terbaik yang awalnya kurasakan Awalnya . hanya terasa baik di awal Selebihnya hanya hampa yang tersisa Mungkin hampa atau entah bosan Atau mungkin bosan yang karena hampa Atau bosan karena tak sempurna Atau hanya ketakutan semata Ntahlah, yang jelas rasa ini ternyata cukup menyiksa. Sayangku, bila Tuhan izinkan kita sama Tentu aku kan menjadi orang yang paling bahagia Sayangku, bila kita lahir di tempat yang sama Tentu rasa ini akan terasa lebih indah Sayangku, salahkah aku bila kini aku bermimpi bahwa kita sama? Salahkah aku bila atas rasa ini, aku berharap padamu ? Sayangku, bila ini tampak lebih nyata Mungkin rasa bosan dan hampa ini takkan pernah ada yaa? Mungkin kita akan lebih mudah tertawa, ya kan? ...
di sini, ada satu hal yang mungkin entah kamu akan mengertinya atau tidak tapi ini begitu terasa . ini yang sering membuatku terdiam . jika saatnya nanti kamu mengerti . mungkin kamu sudah tak ada lagi di sini . tak apa, karena mungkin memang itu waktu yang teralalu tepat untuk kamu mengertinya . tahukah, sungguh sulit mempercayainya saat kuingat indahnya masa lalumu . terlalu indah .

:)

Kamu untukku adalah seperti sinar matahari yang mencuri tempat di balik sisa awan hujan yang kelabu . Dan itu, nampaklah sangat indah . Dan kini, Aku miliki keindahan yang sama karenamu . Sinar matahri yang merubah awan kelabu menjadi tampak bercahaya --- Terima kasih : )

----------

--------- Tangis itu pecah lagi Ntah karena apa . Tiba-tiba saja kurasakan semangatku menghilang Seluruhnya . ya . seluruhnya . Tiba-tiba saja suasana hatiku mendadak kelabu Entah karena apa. Aku pun tak mengerti. Sungguh. Hanya ada air mata yang begitu mudahnya mengalir saat ingatan ini kembali padanya, Ah, dia .. Mengapa begitu sulit melupakannya . Bukankah aku telah mengikhlaskannya? Bukankah aku telah beberapa langkah pergi meninggalkan tempatku yang dulu ? Tempat yang selalu ku jaga dengan baik . Bukankah aku telah berjanji untuk menjadikan tempat itu sebagai sebuah kenangan ? Kenangan yang manis . Tanpa air mata. Hanya senyum keindahan dan yah, sisa-sisa cerita indah itu . Aah, memang semuanya masih tampak begitu jelas di benakku . Mungkinkah kini ada sesuatu yang terjadi padanya, hingga aku begitu mudahnya menangis Atau mungkin hanya rasa yang begitu sepi yang membuatku menangis. Aku benci menangis . Aku benci menangis karena kesed...

seperti si buta pada tongkatnya

seperti si buta pada tongkatnya Seperti si buta dan tongkatnya. Begitulah mungkin kepercayaan itu digambarkan. Tongkat yang menjadi kepercayaan langkah si buta dan si buta yang selalu yakin akan sentuhan tongkatnya tongkat dan si buta, dua makhluk berbeda yang  mencoba mengukir keyakinan melalui kebenaran tongkat yang selalu jujur pada si buta akan setiap benda yang disentuhnya dan si buta yang tak pernah meragukan kejujuran tongkatnya . Dan mungkin seperti inilah seharusnya sebuah kepercayaan kita lakoni . Dalam jujur dan yakin . J

Airmata, hujan, pelangi, dan senyuman

Airmata, hujan, pelangi, dan senyuman Air mata, Aliran bening hangat yang mengalir dari hati. Setitik demi setitik atau serentak mengalir deras tak terbendung meski setitik demi setitik bukan gerimis air mata namanya atau ketika mengalir tak terbendung bukan pula badai air mata namanya air mata tetaplah air mata , entah seberapa banyaknya entah dari rasa apa asalnya . pahit, sakit,bahagia,kecewa, haru semua itu mampu menjadi komponen penyusun air mata, Hujan, Yang setitik dinamakan gerimis yang deras sering dikatakan badai. Meski berbeda dengan air mata tapi hujan dan air mata itu memiliki kawan baik yang sama. Ingat kah kamu, Lengkungan indah yang kerap hadir diantara mereka Kawan baik sang hujan Sesosok lengkungan yang berwarna Dan kawan baik airmata Sosok lengkungan yang mampu membuat segalanya lebih berwarna Yaph, pelangi dan senyuman Selalu mampu membuat abu-abu airmata dan hujan lebih berwarna Lebih indah Dan mereka selalu had...

Indah yang hampa

Indah yang hampa Akhirnya rasa ini hanya berujung pada sebuah kehampaan . Rasa yang seharusnya indah dalam fasenya namun  Nampak begitu hampa Karena yang ada tak benar benar utuh Semuanya nyata Semuanya ada Semuanya bukan mimpi satu. Seolah tetap menjadi khayalan belaka Bahkan khayalan yang terlalu tinggi Salah apa? Salah siapa? Salahkah kami yang membiarkan rasa ini tetap ada?

rindu

rindu Menyapa bukan ingin kembali Hanya sekedar rindu Yah, hanya rindu Rindu yang tertahan Rindu yang terlalu lama tak bertuan Rindu yang entah kapan akan terbalas Saat pejamkan mata. Ah, mengapa harus bayangannya yang kembali hadir Nampak senyumannya yang selalu membuat rindu ini menyeruak . Entah atas apa, Entah untuk apa, Entah seberapa banyak kata rindu yang terucap Dan entah sampai kapan rindu yang sama akan selalu hadir Salahkah ? Atau mungkinkah ini rindu yang berada dalam wajar Jika iya . wajar . Mengapa rasanya seperti ini . Terlalu sakit untuk dibiarkan namun juga terlalu sayang untuk ditinggalkan dan dilupakan

Rindu dalam rasa yang samar

Rindu dalam rasa yang samar Rindu, namun samar. Ya, rindu itu terasa samar kini. Sekaan iya dan tidak. Ntah padanya atauu mungkin pada yg lain. Yang lain? Yaa, sedikit ada yang menyelinap di hati ini, Tapi tentu saja aku belum mau menamaknnya cinta Hanya nyaman. Sekedar nyaman (mungkin) paling tidak itulah yang kurasakan saat ini Sedikit (banyak) menyembuhkan luka. Meski aku tak berharap banyak Tapi kehadirannya sungguh membantu Mungkin jika kemarin aku terjatuh di dalam sebuah lubang Hari ini dialah yang menggapaiku dan menarikku perlahan dari lubang itu Terima kasih Hanya itu yang sanggup ku ucapkan kini Ingin, kamu selalu hadir Dan tetap membuat segalanya SEOLAH indah J Mencari . menerima . dan menjalani Ada fase dimana itu semua tak sama dengan hati. Masalah ? Tentu bukan . semuanya hanya sebuah proses . Hati dan kenyataan . Memang terkadang keduanya tidak terlalu kompak Tapi rasa . rasa yang ada selalu mampu mendamaikan k...

Masa dan penantian

Haaah . . Amarah, nthlah, kurasakan  lagi sebuah kkecewaan atas hal yang sama, yang sudah tak asing lagi bagiku. Semuanya sama saja, kini ataupun nanti. Aku merindukan perubahan itu.. Tuhan, sampai kapan aku harus menunggu, Sampai kapan aku berada di dalam keabstrakan rasa inii . . Tuhan, aku hanya ingin bahagia, tertawa lahir dan batin Tuhan, aku ingin berhenti menuliskan kesedihan dalam lembar hidupku Aku ingin berhenti menuliskan kata gagal dalam catatan hidupku. Bantu aku, beri aku kekuatan dan semangat yang tak putus untuk mewujudkan sgala ap yang ada di benakku Tuhan, ku akui aku begitu lemah, tapi aku ingin bangkit, mengabaikan semua kerikil yang ada di hadapaku. Aaah . . Andai aku bisa mengabaikan semua perasaanku. Tuhan, aku benar-benar letih dengan semuanya,, Beri aku jalan untuk menggapai sebuah senyuman esok. Tuhan,, 

aku dan titik jenuhku

Aku hanya sebatas apa yang aku pikirkan. Meski banyak yang tak terwujud. Aku tetap yakin dengan segala pemikiranku. Mungkin aku egois Tapi inilah aku Aku hanya melakukan ap yang ingin aku lakukan, dan saat aku berada pada titik jenuhku, Aku berhenti. Tapi terkadang aku tak sanggup menghentikannnya Aku tak ingin lari dari tanggung jawabku Tapi aku tak mungkin terus seperti ini Ntah kapan aku merasa nyata Nyata sebagai diriku. Dlm hidupku,

Hilang arah

Hilang arah Rasa, mimpi, dan harapan . Smuanya berkecamuk di benakku kini, Aku bimbang, Aku seolah kehilangan arah,, Inginku tak sama dengan beban hatiku. Aku ingin tapi aku tak sanggup Aku mau tapi aku tak tahu. Aku buta.

Ingin berbalik

Ingin beristirahat Tak ada maksud untuk melupakan Kembali seperti dulu Di saat semuanya seakan masih putih Bukan tak berisi Sangat berwarna sebenarnya Namun dalam  satu. Tawa dan keikhlasan. Tak pedulikan kata mereka Dan aku Berjalan sesuai inginku Tak ada pengaruh, semuanya dari aku Nampaknya ada rindu saat ini, Bukan rindu yang sama. Ini berbeda. Seakan aku ingin berbalik arah. Berlari, kembali, dan meneruskan jalanku yang dulu. Sulit. Jangankan melangkah dan berlari Berbalik badan pun ku rasa sulit. . . .